Kamis, 20 Januari 2011

Nyanyian

Nyanyian itu serasa membelah angkasa, karena keindahan
Membuat mataku menjadi basah
Nyanyian itu menghaluskan rasa dan raga
Mencairkan kekerasan menjadi keindahan dan keselarasan
Puji-pujian mengembangkan kepak sayap burung terbang ke angkasa

Ku terdiam mendengarkan
Nyanyian itu menerangi dunia
Helaan nyanyian itu berhembus dari langit menuju langit
Arus suci nyanyian itu membelai karang yang beriak terus
Ku ingin ikut bernyanyi
Tapi kenapa mulutku kelu
Suaraku tak jua mau keluar

Selasa, 16 November 2010

Cerita Untuk Anakku

Kalau Mom bawakan mainan berwarna, apakah kau tahu kenapa anakku?

Lihatlah di kolam banyak permainan aneka warna yang mengapung di permukaan air,

Mengapa ada bunga teratai berwarna-warni?

Karena hidup memang berwarna anakku

Kalau Mom bernyanyi, lalu kakak memetik dawai gitar dan kau memetik dawai bass,

Tahu benarlah Mom, mengapa ada lagu di dalam daun dan mengapa ombak mengirimkan suaranya sampai ke hati bumi?

Karena hidup penuh rahasia anakku

Kalau Mom bawakan cokelat, kau pasti memeluk Mom

Apakah kau tahu, mengapa ada madu di kelopak bunga, dan mengapa buah-buahan berasa manis?

Karena hidup ini memang manis anakku

Kalau Mom cium keningmu , engkau pasti tersenyum buah hatiku

Pastilah Mom tahu, apa bahagia itu yang mengalir dari langit lewat matahari pagi, dan menikmati sejuknya musim panas yang mengusap badanmu

Karena hidup penuh kebahagiaan dan kehangatan anakku

Kalau Mom cium pipimu, engkau pasti tersenyum juga anakku sayang

Tahukah hidup itu penuh kasih dan damai

Kalau Mom berkata jadilah anak yang jujur, bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab,

Karena itu dalah bagian dari kehidupan anakku.

(16 tahun yang lalu kau di lahir di Palembang, 16 November 1994 )

Sabtu, 13 November 2010

Mengenang Ibu

Cinta Ibu adalah tanpa syarat
Apa yang harus kulakukan Cuma menjadi diriku inilah, menjadi anaknya
Cinta Ibu tak perlu diminta
Karena Ibu adalah perahu, maka Ibu membawa anak-anak ke dermaga kebahagiaan,
Anak-anak adalah penumpang, perahu akan mengembangkan layarnya, untuk membawa anak-anak sampai tujuan dengan selamat
Ibu merupakan pelepas dahaga, jika kita merasa haus
Ibu sebagai penyejuk di saat kita kepanasan
Ibu bisa membawa jalan tengah, jika kita bimbang
Ibu selalu memberi, tidak seperti neraca yang selalu dipertimbangkan
Ibu selalu identik dengan kasih, disetiap elusannya sebagai tetes embun di pagi hari
Ibu sebagai matahari yang selalu menyinari kehidupan
Ibu sebagai lilin di tengah kegelapan
Ibu kasihmu sangat abadi

Maka untuk
Bunda akan kurangkai mutiara di lehermu dengan air mata kasih dan terima kasihku
Bintang gemerlap keemasan mengikat pergelangan tangan, dari cahaya bintang dan rembulan, sebagai penghias tanganmu
Tetapi kau pindahkan semua perhiasan dan kau gantungkan di dadamu
Kau bentuk karakter dan prinsip sedemikian rupa
Sedihku selalu kau ambil alih kau ganti dengan kegembiraan
Engkau selalu menghadiahi senyum beserta restumu Bunda

(Mengenang 10 tahun wafatnya almarhumah ibunda Y.R. Suyatmi Sukardi. Rest In Peace, Trenggalek 15 November 2000-2010)

Rabu, 29 September 2010

Obor Yang Tidak Berguna

Di pinggir sungai di belakang rumah, diantara pohon pisang yang berbuah dan daunnya telah menguning. Kutanya seorang ibu setengah tua, “Ibu, kemanakah engkau pergi, kenapa engkau lindungi obormu dengan bajumu? Tidakkah kau takut terbakar? Ibu rumahku gelap dan sunyi , bolehkah aku meminjam obormu?” sesaat kemudian diangkatlah mukanya yang mulai ada garis-garis penuaan , bersama sorot matanya yang tajam ditatapnya mukaku dalam temaram senja, “Aku datang ke tepi sungai ini untuk menghanyutkan oborku di atas arus, apabila cahaya siang menghilang di sebelah barat”. Sendiri aku berdiri diantara pohon pisang yang berbuah dan daunnya telah menguning itu dan kulihat cahaya obor malam, hanyut bersama aliran sungai tiada berguna.

Dalam sepinya malam kutanya pada orang lain yang lewat, “Ibu, obormu telah engkau pasang, mau kemanakah engkau pergi dengan obormu itu? Rumahku gelap dan sunyi , pinjamilah aku obormu itu”. Sesaat kemudian diangkatlah mukanya yang mulai ada garis-garis penuaan bersama sorot matanya yang tajam ditatapnya mukaku dan sekejap, bimbang si Ibu. Lalu Ibu berkata, “ Aku datang untuk mempersembahkan oborku pada langit”. Aku berdiri dan sunyi, kulihat cahaya obornya marak di udara, tak ada gunanya.

Dalam gelap dini hari, tak ada bulan dan bintang, kutanya ibu tua lain yang lewat, “ Ibu apakah yang kau cari dengan obor sedemikian dekat ke hatimu”. Ia diam sebentar, termenung dan menatap mukaku dalam gelap dan sunyi. “ Aku bawa oborku, untuk ikut pesta obor”. Aku berdiri dalam sepinya dini hari. Kulihat obornya hilang tenggelam diantara obor yang banyak, tak sedikitpun obor yang digunakan semestinya.