Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 September 2010

Obor Yang Tidak Berguna

Di pinggir sungai di belakang rumah, diantara pohon pisang yang berbuah dan daunnya telah menguning. Kutanya seorang ibu setengah tua, “Ibu, kemanakah engkau pergi, kenapa engkau lindungi obormu dengan bajumu? Tidakkah kau takut terbakar? Ibu rumahku gelap dan sunyi , bolehkah aku meminjam obormu?” sesaat kemudian diangkatlah mukanya yang mulai ada garis-garis penuaan , bersama sorot matanya yang tajam ditatapnya mukaku dalam temaram senja, “Aku datang ke tepi sungai ini untuk menghanyutkan oborku di atas arus, apabila cahaya siang menghilang di sebelah barat”. Sendiri aku berdiri diantara pohon pisang yang berbuah dan daunnya telah menguning itu dan kulihat cahaya obor malam, hanyut bersama aliran sungai tiada berguna.

Dalam sepinya malam kutanya pada orang lain yang lewat, “Ibu, obormu telah engkau pasang, mau kemanakah engkau pergi dengan obormu itu? Rumahku gelap dan sunyi , pinjamilah aku obormu itu”. Sesaat kemudian diangkatlah mukanya yang mulai ada garis-garis penuaan bersama sorot matanya yang tajam ditatapnya mukaku dan sekejap, bimbang si Ibu. Lalu Ibu berkata, “ Aku datang untuk mempersembahkan oborku pada langit”. Aku berdiri dan sunyi, kulihat cahaya obornya marak di udara, tak ada gunanya.

Dalam gelap dini hari, tak ada bulan dan bintang, kutanya ibu tua lain yang lewat, “ Ibu apakah yang kau cari dengan obor sedemikian dekat ke hatimu”. Ia diam sebentar, termenung dan menatap mukaku dalam gelap dan sunyi. “ Aku bawa oborku, untuk ikut pesta obor”. Aku berdiri dalam sepinya dini hari. Kulihat obornya hilang tenggelam diantara obor yang banyak, tak sedikitpun obor yang digunakan semestinya.

Selasa, 31 Agustus 2010

Kekasih Gelap

Ku mencintaimu lebih dari apapun

Meskipun tiada satu orangpun yang tahu

Ku mencintaimu sedalam-dalamnya hatiku

Meskipun hanya kekasih gelapku

Yakinlah bahwa engkau adalah cintaku

Yang kucari selama ini dalam hidupku

Dan hanya padamu kuberikan sisa cintaku

Yang panjang dalam hidupku

Kumencintaimu sedalam-dalamnya hatiku

Meskipun engkau hanya kekasih gelapku

Kumencintaimu lebih dari apapun

Meskipun tiada satu orangpun yang tahu

Kumencintaimu sedalam-dalam hatiku

Meskipun engkau hanya kekasih gelapku

Kekasih gelapku

Mereka berdua menyimak dan menghayati lagu dari group band ‘ungu’, yang dinyanyikan oleh Pasha, sampai lagu itu tak terdengar lagi melodinya. Sang lelaki memegang kendali, di balik kemudi yang dikendarainya dengan cermat dan hati-hati. Sepertinya sang lelaki tidak mau masuk ke lubang jalan yang membuat wanitanya terguncang oleh lubang. Maka dia kemudikan sangat hati-hati. Hati-hati sekali.

Sang wanitapun meresapi syair lagu itu dengan begitu dalamnya. Apakah lagu itu diciptakan khusus untuknya? Atau hanya kebetulan mirip dengan perjalanan hidupnya. Dari balik kaca jendela kendaraan yang mereka tumpangi tampak hujan turun begitu lebatnya. Hujan itu disebarkan oleh langit merata di bumi. Udara pendingin di dalam kendaraan terasa kalah dingin oleh guyuran hujan dari luar. Terasa menusuk ke dalam pori-pori kulit. Bulu tangan jadi berdiri, menggigilkan tengkuk. Hujan seperti tirai benang panjang, tak berhenti. Ujung-ujung hujan menari di jalannan. Pepohonan basah. Tampak burung melipat sayapnya yang lelah. Melawan dinginnya muram hati. Apakah sang petualang tau tentang rindu dan sepi?

Sang lelaki yang berada di balik kemudi, membaca apa yang ada dalam pikiran sang wanita. Maka ia menegaskan, bahwa lagu itu diciptakan untuk sang wanita kekasih gelapnya yang duduk di sampingnya itu. Betapapun hanya diberi sisa cintanya sang kekasih gelapnya tak memusingkannya.

Apakah lelaki hanya memiliki satu cinta? Seperti aliran sungai. Bisa mengalir kemana-mana belok ke kiri belok ke kanan. Tapi sebenarnya satu arus saja. Karena sejauh debur ombak. Arus sungai tak pernah lupa pada batu-batu, pasir dan para lumut.setabah itu arus menuju muara, membelah ombak. Arus melewati sejarah lengang, dan panjang. Dari hulu menuju samodra yang selalu riuh dengan ombak. Ombak selalu pulang ke pantai. Membuat istana pasir, mungkinkah? Ombak pergi ombak datang. Pantai begitu setia dan sabar menerima ombak.

Sebagai kekasih gelap. Apakah seperti fatamorgana? Yang selalu mengelabuhi pandangan. Fatamorgana selalu ada di saat matahari memancarkan sinarnya dengan terang. Fatamorgana indah dari jauh. Seperti genangan air yang cemerlang penuh dengan uap di tengah jalan beraspal. Tetapi jikalau didatangi kemana air itu?

Hujan telah mereda, dari kejahuan terlihat matahari yang menyembul di balik bukit nan hijau, begitu indahnya dan sangat anggun. Ternyata semua itu mengelabuhi pandangan. Setelah di dekati kehijauan itu tampak pecah cokelat dan bolong-bolong gundul. Dalam menyusuri bukit sang wanita sepertinya merasakan betapa sakit dibabat habis, dibakar sampai asap-asap mengabut kelabu seperti hatinya. Sampai kapan perih itu berakhir? Setelah menyusuri bukit, di kiri kanan jalan tampak sepasang kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya diantara bunga-bunga dan kemilau cahaya matahari. Bunga-bunga itu seperti menaiki puncak gelombang cahaya di antara mega yang berarakan, tampak kemilau permata nan mewah. Kegembiraan sepasang kupu-kupu membuncah diantara bunga-bunga yang mulai mekar yang tiada habis. Tak terputus oleh tepian aliran sungai.

Apakah sang wanita mempunyai mata hati? Kenapa dia mau saja menyandang sebutan sebagai kekasih gelap? Bukankah mata hati itu bagian darihidup yang tak pernah lepas. Mata hati tak pernah bosan mengirimkan tanda-tanda kapan berhenti, kapan berpikir ulang, untuk melakukan sesuatu. Yang berupa rasa tak nyaman, tak patut dan tak layak. Mata hati akan terasah, dengan memberi tanda-tanda secara nyaring. Mata hati akan bisa berbagi, berempati, peduli dan respek terhadap orang lain. Mata hati bisa menjadi kunci untuk kejernihan hidup, terutama untuk yang tidak berdaya. Apakah mata hati sang wanita telah pupus? Kenapa sang wanita masih mau menjadi kekasih gelap? Kenapa tidak merasa bersalah?Apa karena ia hanya minta sedikit saja, tidak banyak, dari sisa candu yang menjadikannya terbang ke awan?

Sang lelaki memikirkan kehidupannya sendiri. Kenapa jikalau berada di rumah sering berselisih pendapat? Bagaimana bila jeda sesaat dari keributan dan keramaian? Apakah satu sama lain tak paham akan laku masing-masing? Marilah kita lihat aliran air yang terus bergerak menuju lautan yang mengumpul, di setiap perjumpaan melebur menjadi satu.

Sang wanita kekasih gelap itu sangat jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang tak tentu rimbanya. Mungkin dia sadar posisinya. Karena di dalam hatinya selalu tertanam, bahwa dialah yang paling hina. Maka dari itu, tak ada pilihan yang lebih baik untuk menemukan kebahagiaan, kecuali rendah hati. Karena meletakkan diri di tempat terendah, tak seorangpun bisa menghina. Karena tak bisa dihina , dia bahagia dimanapun berada. Mungkinkah ini yang membuat sang lelaki tak bisa melepaskannya. Dan kekasih gelap itu telah berubah menjelma sebagai cahaya yang menyejukkan mata,cerah menenangkan hati. Ah, sang wanita menari di dalam kehidupan kekasihnya. O, langit terbuka, angin semilir menari-nari, tertawa berlayar menuju daratan.

Di saat dalam kesendiriannya, sang wanita berpikir. Kenapa mau saja menjalani hidup seperti ini? Apakah ia hanya menuruti kata hatinya? Bahwa cinta itu mengandung lebih banyak kesedihan dari pada keindahan. Karena keindahan lahir dari kesedihan. Dia suka mendengarkan keindahan suara seruling nan merdu itu. Tahukah bahwa seruling itu dibuat dari ratapan bambu yang dipotong, dibelah paksa, diraut, dilubangi dan dihaluskan? Karena itu sang wanita ikut merasakan, bahwa ada kekuatan dalam kasih. Karena orang yang mengasihi adalah orang yang kuat. Kasih bisa mengalahkan keinginan diri sendiri. Dan kasih itu sabar yang sanggup menanggung segalanya . kasih tidak merasa disakiti. Kasih itu keindahan seutuhnya, di saat memberi tanpa merasa kehilangan walaupun kasih berlalu. Karena kasih sejati selalu tumbuh dan hidup di hati.

Di sepanjang perjalannan sang wanita menyimak kata-kata sang lelaki. Bahwa lebih enak jadi kekasih gelap, karena tidak ribet, tidak memikirkan tagihan utang. Disetiap pertemuan selalu penuh canda ria, baik-baik saja, selalu dipenuhi kebahagiaan, dan tidak pernah memikirkan yang sedih-sedih. Apakah ini kebahagiaan?

Di dalam hati sang wanita, timbul beberapa pertanyaan, kenapa tak banyak orang mau menjalani hidup seperti dirinya. Apakah tidak tahu, atau atau tidak mau? Apalah artinya pohon tanpa akar? Apalah artinya sungai tanpa mata air? Apalah artinya rumah tanpa tiang? Apalah artinya keluarga tanpa suami? Apalah artinya keluarga tanpa ayah? Apalah artinya keluarga tanpa anak? Apalah artinya suami yang kurang tulus dan melindungi anak istri? Disepanjang perjalanan itu seperti melewati lorong yang amat panjang. Dalam kebisuannya sang wanita bertanya yang tak pernah terjawab. Apakah cinta yang ada merupakan ego yang tersisa? Sunyi itu tak mampu menjawab.

Kata-kata sang lelaki masih terngiang-ngiang, sebagai kekasih gelap lebih dihargai, disayangi dan tidak pernah saling memarahi. Sang wanita sangat mengerti, bahwa kata-kata bisa memahami seseorang. Kata-kata bisa mengetahui kehidupan seseorang. Sang wanita itu sangat menyadari, seseorang harus memahami orang lain. Seseorang harus bisa menghormati kebahagiaan orang lain. Setiap orang tak boleh hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri.

Jumat, 28 Mei 2010

A Journey to The Land Clearing Area


Malam ini teramat gulita. Pekat meraba. Udara dingin seperti membeku, semua pada tidur. Tidur untuk masa depan. Kedua anakku tidur juga. Dengan mata terpejam. Mata itu seperti sebuah sumur. Sumur yang sejuk dan bening. Dari mata itu udara menjadi sejuk . mencipta sungai-sungai di malam hari. Rasa sejuk menggenang di dada. Angin malam membawa kesejukan. Yang melintasi kebun, sungai, sawah, dan kebaikan. Menyebar keseluruh sanubari. Putih senyap selembut doa-doa yang tak pernah putus.

Kutinggalkan sementara kedua anakku. Kusambut pagi dalam perjalannan. Aku bisu, aku termanggu. Kuberpikir, apakah mimpi-mimpi dapat diulang berkali-kali? Mataharipun menjilati sisa mimpiku yang masih ada. Yang kutemui di dalam mimpi adalah taman bunga mawar, mata dan purnama. Yang tetes embun pertamanya menyentuh kelopak bunga mawar. Berkatilah bunga mawar mekar itu. Ada bundaran terang bercahaya di langit biru. Menyingkap kabut malam. Bersama udara yang penuh wangi bunga mawar.

Cahaya pagi menyapa penuh keramahan dan kelembutan. Langit biru cemerlang digores semburat merah dilengkung langit. Tempat munculnya matahari yang selalu rutin dan teratur menyapa kita. Merupakan hadiah alam yang harus kita jaga agar seimbang.

Siang datang. Ada sepasukan burung terbang di awan. Menuju rimbunnya pohon. Tapi kenapa tidak jadi? Apakah pindah ke sarang yang lain? Apakah dahan, ranting dan daun tidak merana? Lalu menjadi luruh dan mati karena kesepian. Tak ada kicau burung. Apakah semalam baru hujan? Atau ada angin ribut? Adakah yang murka?

Petang pun datang. Dengan kesibukan di pantai. Kita akan berlayar menuju pantai seberang. Di pantai yang tak bertepi itu senyum-Mu diam, mendengarkan, suara nyanyianku yang tak berirama, seperti ombak, bebas dari ikatan kata.

Apakah belum sampai? Masih adakah pekerjaan yang belum selesai? O, ternyata malam akan turun. Menutup pantai dan mentari kembali ke peraduan. Burung laut pun kembali ke sarangnya. Dan kapal pun hilang ditelan malam.

Kenapa laut kesepian? Padahal sudah dipecahkan kicauan burung. Pasir di tepi pantai dengan gembira menerima kilau emas matahari. Kami terus bergegas, berjalan terburu-buru. Kenapa tidak mendendangkan sebuah lagu? Bersama kegembiraan alam. Kami menuju hutan untuk membuat hamparan kebun yang menghijau subur penghasil minyak nabati. Kami tidak berkata-kata, juga tidak tersenyum. Kami tak menikmati jalan lagi. Kami terburu-buru menghindari matahari yang semakin merayap ke puncak, melintasi daun-daun yang menguning, melayang-layang dibawa angin hutan.

Kami sudah sampai. Terdengar suara nyanyian di depan pondok. Nyanyian itu sampai di sudut telingaku. Siapakah yang berdiri di depan pondok itu? Tetapi kenapa nyanyian itu lama kelamaan menjadi kesedihan? Kesedihan yang bercampur dengan kepiluan mengaduk-aduk mata hati.

Saat terakhir pembersihan. Ada satu pohon berdiri sendirian. Hanya ditemani dahan, ranting, dan daun. Sepertinya dalam kesepian ia berdiri. Siapa yang datang dibawah ranting sepinya? Pohon itu tidak berani bergerak walau diterpa angin, hujan. Pohon itu tidak tau bagaimana cara menjaga agar tidak rusak. Sepertinya ia takut dalam bergerak. Kenapa yang berteduh tak jua pergi? Adakah yang tega menjamah pohon itu? Bagi pohon itu bayangan maut sepertinya selalu datang, begitu saja dari langit tak terjangkau. Di langit-langit itu, bayangan sangat angkuh dan datar bagai raksasa. Gema cengkeraman tangan-tangan besi akan selalu muncul di setiap saat, datang bagai angin pergi tanpa belas kasih.

Yang bagaimanakah cinta lingkungan itu? Atau hanya menggalihkan fungsi. Dari hutan tersier menjadi hamparan kebun yang menghijau subur penghasil minyak nabati.

Bulan muncul mengambang di langit. Memancar aura sepuh kuning keemasan. Pada gelombang awan hitam. Dan malampun semakin pekat.