Minggu, 09 November 2014

Sinyal Sibuk

Apakah kita juga "pahlawan" atau hanya "pahlawan waktu" yang punya kalender besar yang sarat dengan janji pertemuan yang digantungkan di dinding dapur, dan "gadget" (note book, smartphone) yang selalu kita bawa ke manapun kita pergi, sebagai penyeimbang kehidupan kita yang serba sibuk. Kita membeli berbagai peralatan yang menjanjikan penghematan waktu, yang membuat kita tidak lagi mengingat, bahwa fasilitas yang kita gunakan sekarang ini adalah sebuah kemewahan di masa lalu.

Kita berusaha melakukan pekerjaan dengan sedikit lebih cepat dan bertanya-tanya, mengapa semua itu tampaknya tidak ada yang meredakan tekanan waktu yang begitu berat.

Masih banyak aspek lain dalam kehidupan ini selain kecepatannya.

Cara kita menghabiskan waktu, tentu saja, sama dengan cara kita menghabiskan kehidupan.

Selamat Hari Pahlawan 10 November :)

Senin, 03 November 2014

KESEDERHANAAN

Kesederhanaan Saya baru saja ketemu teman lama yang baru pulang liburan panjangnya. Ini ceritanya: Saya dan keluargaku melakukan perjalannan ke Eropa. Menyeret kJimioper dari satu negara ke negara berikutnya, dari satu hotel ke hotel berikutnya. Di sepanjang perjalanan, kami membeli beberapa cendera mata kecil, yang paling berat piring dan buku-buku yang menarik untuk mengingatkan kami pada tempat-tempat indah dan bersejarah. Pada suatu waktu, salah seorang anggota keluarga harus pulang, sehingga kami memutuskan untuk sekalian saja mengirimkan beberapa dus yang penuh dengan pakaian dan cendera mata yang selama ini membebani kami dalam perjalanan. Setelah terbebas dari semua barang yang tidak kami perlukan itu, kami merasa bebas - bebas untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi berikutnya tanpa beban, bebas untuk menikmati pemandangan tanpa barang bawaan berat yang menyerap tenaga.

Beberapa saat kemudian teman saya pulang, saya jadi berpikir, demikian pulalah dengan beberapa aspek kehidupan. Kita semua biasanya terbelenggu oleh seribu satu macam halangan dan tugas yang melilit kita dengan erat dan menghalangi kebebasan kita. Untuk menyederhanakan tugas, bisnis, dan hidup, kita harus tahu bagaimana cara melepaskan hal-hal yang penting dari keadaan yang membelenggunya, karena tidak semua hal memerlukan pertimbangan yang sama. Sikap tidak tertiblah yang membuat kita menjadi budak: kesemrawutan di masa kini akan mengurangi kebebasan di masa depan.

Untuk direnungkan: Lihatlah sekeliling anda, apakah ada tetek bengek yang mencuri waktu anda yang berharga? Apakah anda menghabiskan waktu berjam-jam untuk membersihkan, memperbaiki, atau mengeluarkan uang untuk berbagai barang yang dalam kehidupan anda ternyata tidak terlalu penting? Benda apa sajakah yang dapat anda singkirkan?

Agar hidup bisa sederhana, kita harus melepaskan beban lama yang tidak punya nilai abadi.

Sabtu, 01 November 2014

Mencari Makna

Mencari Makna

Ketika aku masih kecil, hanya Batman yang punya telepon genggam. Dia punya telepon mobil. Pikirku waktu itu: Wow, bayangkan, punya telepon mobil?
Namun, tehnologi tidak mengubah hidup kita, kecuali mungkin bagaimana cara kita memanfaatkannya. Kita masih tetap dalam posisi bangun tidur dan memiliki pilihan: Apakah aku akan membuat dunia menjadi lebih baik hari ini, atau
tidak peduli?

Jumat, 31 Oktober 2014

Kabinet pak Jokowi dan sepak bola

Para pembantu Presiden alias Menteri kabinet "kerja" pak Jokowi-JK kemaren siang sudah dilantik dengan sumpah yang khidmad dan bercostume batik *Indonesia banget*

Ketika President Jokowi mengumumkan susunan kabinetnya, seperti biasa, banyak celoteh dari rakyatnya, termasuk para pengamat politik amatiran. Susun menyusun kabinet ala pak Jokowi kurang lebih persis pola penyusunan "line up" kesebelasan sepak bola. Setiap pelatih-manager punya hak prerogative menentukan nama pemain yang sesuai dengan gaya permainan yang dimiliki.

Demikian pula dengan pak Jokowi. Salah satu contohnya dari 34 menteri, yang menarik untuk disimak adalah ibu Susi Pijiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, telah menyalakan kontroversi sejak awal pengumuman dan pelantikan, terkait "tato", pendidikannya yang SMP serta "klepas-klepus" asap rokoknya di Istana. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki ibu Susi, jelas pak Jokowi telah mempertimbangkan dua hal ini sebagaimana dulu Roberto Mancini nekat merekrut Mario Balotelli dengan kebengalan yang disertai talenta ajaibnya, atau ketika Sir Alex Ferguson bersikukuh mendatangkan Eric Cantona: pemain kharismatik Perancis berkualifikasi Jendral lapangan tengah.

Kita tunggu saja aksi bu Susi dalam menangani bidang kelautan dan Perikanan dengan caranya yang khas.

Hehehehehe... tak perlu serius mikir kabinet, toh empat hari tanpa kabinet (menteri) kita masih bisa ngopi dengan bahagia.

Jadi kita lihat saja aksi bikinan duet manager Jokowi-JK. Semoga bisa mengemban amanah. Selamat hari Sumpah Pemuda, 28 October :)